Kenapa ya? Masa-masa awal pacaran
itu terasa sangaaaaaaaaaaaaaaaaaat indah. Telepon tiap menit berdering dari si
dia. Nanya lagi dimana, lagi apa, udah makan apa belum de el el. Sms juga ga
kalah banyaknya. Sampe-sampe inbox jadi full. Isinya? Berisi kata-kata sayang nan
mesra dan perhatian yang ga habis-habis. Kadang-kadang ada kata-kata gombel,
ups maksudnya gombal yang nyempil di antara sms dari dia. Bisa bikin
ketawa-ketiwi kalo baca smsnya. Dan noraknya, sms itu pasti dibales dengan
kata-kata gombal yang ga keren, maklum ga punya bakat gombal. Awal-awal pacaran
pun selalu ada panggilan sayang yang lucu, dari “Ay”, “yank”, “cinta” de el
el. Hihihi. Pokoknya indah banget
deh kalo di inget-inget.
Beberapa bulan-tahun atau abad
kemudian? Huuuuuuuuuuuuuuuuu, sms bisa di itung pake jari tangan (ga butuh jari
kaki!!!). Cueknya jadi minta ampun. Telepon? Bisa tiga hari sekali doang. Duh,
kok berubahnya drastis bgt ya? Ada yang salah kah? Sudah bosan kah? Entah lah. (walau gak semua kayak gini yaa) Saya
ga pernah habis pikir soal masalah ini. Belom ada penelitian saya ttg ini. Hihihi..
google
Tapi saya jadi mikir nih, kalo
lama-lama pacaran malah makin berkurang kadar mesra-gombal dan
sayang-sayangannya, bagaimana kalau udah nikah ya? Nikah yang berarti setiap
detik, menit, hari, minggu, tahun harus ketemu sama pasangan kita, bahkan
ngelihat pasangan dari kondisi terburuk sampai yang terbaik. Apakah rasanya
akan menjadi berkurang kadar sayang-sayangannya? Apakah perhatiannya akan
hilang juga? Waduh, mudah-mudahan enggak yaaaa..
Soalnya saya selalu berharap,
punya pasangan yang perhatian. Sayang sama saya luar-dalam. So? Dengan begitu
pasti hubungan akan awet sampe kakek-nenek yang tetap bersama sampai senja
tiba. Duh, romantis kali ya? Mudah-mudah pasangan saya kelak akan bisa tetap
perhatian dan sayang sama saya, sampai kita menua bersama. Aamiin....
google
dapet kata kata bagus dari google:
Kualitas suatu hubungan tidak
terletak pada lamanya hubungan tersebut, melainkan terletak sejauh mana
kita mengenali pasangan kita masing-masing. Hal itu dapat dilakukan
dengan komunikasi yang dilandasi dengan keterbukaan. Oleh karena itu,
mulailah kita membina hubungan kita berlandaskan pada kejujuran,
keterbukaan dan saling menghargai satu sama lain.

