Agak takut ya sama efek jatuh
cinta. Bagaimana sebuah cinta bisa membuat orang yang sewajarnya sudah dewasa, bisa
bertingkah polah sebagai remaja. Saya agak ngeri ngebayangin sebuah cinta yang
tadinya menghantarkan sepasang manusia ke jenjang pernikahan lalu cinta itu
pula yang di jadikan alasan untuk bercerai.
Maksudnya begini, seperti yang umum
di kehidupan ini, sepasang manusia biasanya menikah karena saling mencintai. Lalu
pernikahanvpun berjalan. Setahun, dua tahun, tiga tahun, dan entah tahun
keberapa cinta yang dulu di jadikan alasan untuk menikah mulai sirna. Berkurang,
menguap, bahkan ada yang sampai tak bersisa. Lalu pernikahan menjadi hambar. Lalu
entah si istri atau suami “jatuh cinta” lagi. Masalahnya jatuh cintanya bukan
dengan pasangannya, tapi dengan orang lain. Keliatan kan gimana orang yang
jatuh cinta lagi ini dilanda rasa galau? Disatu sisi ia sudah punya pasangan,
disisi lain, ia sedang merasakan “keindahan” cinta. Mungkin akhirnya ada yang
tetap mempertahankan rumah tangganya, tapi ga sedikit yang memutuskan bercerai,
dengan alasan sudah tak cinta (padahal ia jatuh cinta dengan orang lain). Lalu menutup-nutupi
hubungan jatuh cinta kedua itu dari semua orang sampai waktu dirasa cukup dan
dianggap orang-orang sudah melupakan dan diakhirnya, mereka menikah lagi dengan
cinta kedua. Padahal itu di dalam pernikahan loh ya. Kalau hubungan pacaran? Wah
itu sih banyak banget, karena pacaran ga ada ikatan resmi dihadapan Tuhan. Memutuskan
hubungan hanya lewat telepon juga gampang. Ini sih bayangan saja aja. Ketakutan
ngebayangin fenomena yang banyak terjadi disekitar saya.
Ada kalimat yang bagus banget
menurut saya “Pernikahan itu adalah komitmen untuk jatuh cinta berkali-kali di
waktu yang berbeda dengan orang yang sama”. Menurut saya, kalimat itu benar. Karena
sebenarnya Tuhan hanya memberikan 1 hati, yang pastinya diisi oleh 1 cinta. Kalau
memang sudah berkomitmen apalagi dihadapan Tuhan, ya harus dijaga komitmennya.
Ya inilah corat-coret sok
bijaksana dari saya. Hehehe....