Kamu masih mencintai, seorang wanita yang ku sebut jingga. Ia indah, mempesona dan bagiku hidupnya sempurna. Ia punya segala yang ku mau, keluarganya yang bahagia, hidupnya yang sempurna, bahkan hal yang selalu ia abaikan, yaitu cintamu. Melihat sinar bahagia dimatamu ketika menyebutnya, diam-diam aku bertanya, apakah kamu akan menyebut namaku dengan sinar yang sama? Kalau kadar yang sama terlalu berlebih untukku, setengahnya saja, seperempatnya pun aku suka atau seperdelapannya juga tidak apa. Ah, lupakan. Aku terlalu berkhayal rupanya.
Jingga mencintai lelakinya, dan itu bukan kamu. Terlalu sakit rasanya ketika melihat wajahmu murung ketika bercerita tentang mereka. Aku bahkan tak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa mengusap lembut bahu mu dan mendengarkan dengan seksama. Lagi-lagi batinku bertanya, apakah kamu akan murung melihatku dengan lelaki lain? Tapi tiba-tiba aku ingin tertawa. Aku sedang bermimpi saja!
-to be continued-
Jingga mencintai lelakinya, dan itu bukan kamu. Terlalu sakit rasanya ketika melihat wajahmu murung ketika bercerita tentang mereka. Aku bahkan tak sanggup berkata-kata. Aku hanya bisa mengusap lembut bahu mu dan mendengarkan dengan seksama. Lagi-lagi batinku bertanya, apakah kamu akan murung melihatku dengan lelaki lain? Tapi tiba-tiba aku ingin tertawa. Aku sedang bermimpi saja!
-to be continued-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar